
Dalam upaya memperkuat arah pembangunan ekonomi inklusif, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Palu memimpin rapat koordinasi Social and Solidarity Economy (SSE) bersama Inkubator Bisnis (INBIS), Yayasan Sikola Mombine (SM), dan Sasakawa Peace Foundation (SPF), Selasa (4/11/2025) di ruang rapat BAPPEDA. Pertemuan tersebut membahas sinergi program pendampingan wirausaha sosial dan penguatan ekonomi masyarakat, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun tata kelola pembangunan yang kolaboratif dan berkeadilan.
Kepala BAPPEDA, Dr. Ahmad Rijal Arma, menekankan bahwa potensi besar Kota Palu harus dikelola secara terpadu lintas sektor.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi ini adalah kunci agar pembangunan di Kota Palu benar-benar inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan, INBIS menyampaikan perkembangan pendampingan terhadap 20 wirausaha sosial muda yang tergabung dalam program SEED for Palu. Program tersebut mendorong lahirnya model usaha sosial yang berorientasi pada penyelesaian masalah di komunitas.

Sementara itu, Yayasan Sikola Mombine memaparkan hasil seminar dan FGD terkait implementasi Perda Disabilitas, khususnya temuan yang menunjukkan perlunya peningkatan akses ekonomi bagi perempuan dan penyandang disabilitas. Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pendekatan ekonomi yang lebih setara.
Rapat tersebut juga menyinggung target peningkatan Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif (IPEI) Kota Palu. Melalui kerja sama lintas lembaga, pemerintah berharap pemerataan pendapatan, penurunan kemiskinan, dan perluasan akses ekonomi dapat dicapai lebih efektif.
Pertemuan ditutup dengan kesepakatan untuk menyusun kerangka kolaborasi (logframe) bersama, serta melanjutkan koordinasi rutin menuju visi Kota Palu Inklusif 2045.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah | Editor: Satrio Amrullah