Mei 2025 — Sikola Mombine bersama Inkubator Bisnis (Inbis) Palu hadir sebagai salah satu presenter dalam rangkaian kegiatan ASEAN Sustainable Development Goals – Social Solidarity Economy (SDG–SSE) Forum 2025 yang diselenggarakan di Swiss Garden Hotel, Bukit Bintang, Kuala Lumpur pada 22–23 Mei 2025. Forum ini diprakarsai oleh All-Party Parliamentary Group Malaysia (APPGM), Asian Solidarity Economy Council (ASEC), dan MySDG Academy sebagai ruang kolaboratif untuk meninjau capaian SDG di kawasan ASEAN serta mempromosikan pendekatan Solidaritas Ekonomi Sosial (SSE) sebagai strategi pelokalan SDG yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis komunitas.

Keikutsertaan Sikola Mombine dan Inbis Palu dalam forum ini merupakan hasil undangan resmi dari APPGM dan ASEC, sebagai pengakuan terhadap praktik baik yang telah mereka jalankan di Kota Palu dalam memperkuat ekosistem ekonomi solidaritas sosial. Dalam sesi Roving Workshop, Sikola Mombine dan Inbis Palu mempresentasikan pengalaman mereka dalam membangun kewirausahaan sosial inklusif melalui kemitraan dengan Sasakawa Peace Foundation (SPF) dan Pemerintah Kota Palu. Melalui enam putaran presentasi dan diskusi berdurasi masing-masing 15 menit, mereka menyampaikan pendekatan berbasis nilai lokal bertajuk “Nosarara Nosabatutu dalam Aksi” yang menggambarkan bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat mendorong transformasi ekonomi yang adil dan inklusif, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan penyandang disabilitas.

Presentasi ini berangkat dari realitas Kota Palu pascabencana 2018 yang tidak hanya menghadapi tantangan pembangunan fisik, tetapi juga keharusan membangun kembali tatanan ekonomi yang tidak meninggalkan siapa pun. Untuk menjawab tantangan tersebut, Sikola Mombine dan SPF melakukan studi pada tahun 2023 mengenai urgensi penerapan model Solidaritas Ekonomi Sosial (SSE) di Palu. Studi tersebut menemukan bahwa nilai budaya lokal nosarara-nosabatutu, yang menekankan kebersamaan dan tidak meninggalkan siapa pun, telah lama dipraktikkan oleh masyarakat sipil di Palu, dan sejalan dengan prinsip-prinsip SSE dan SDG. Namun demikian, belum terdapat kolaborasi lintas sektor yang terstruktur secara sistematis, sementara kewirausahaan inklusif dinilai sangat penting untuk membangun ketahanan komunitas jangka panjang.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Sikola Mombine bersama SPF mendorong penerapan model SSE yang sistemik dan berbasis konteks lokal melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil. Pemerintah Kota Palu turut berkontribusi dengan menyediakan sumber daya keuangan, termasuk alokasi dari Dana Inklusi sebesar Rp1,3 miliar. Di sisi lain, Inbis Palu menjalankan peran sebagai fasilitator pengembangan kewirausahaan, meski masih menghadapi keterbatasan dalam merancang program yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Pada titik inilah peran Sikola Mombine menjadi krusial, yaitu menghadirkan perspektif masyarakat sipil, memperkuat jejaring komunitas, dan mendampingi penyusunan program-program yang lebih sensitif terhadap keberagaman kebutuhan.

Kolaborasi ini telah melahirkan berbagai inisiatif nyata, seperti program match-making antara pelaku usaha sosial dan penyandang disabilitas. Beberapa praktik baik yang diangkat antara lain Tenun Al-Hikmah yang memberdayakan perempuan dan penyandang disabilitas dalam produksi tenun tradisional, serta Kweyang Palu yang menyediakan lapangan kerja inklusif di sektor kuliner. Upaya ini diperluas melalui peluncuran proyek percontohan yang bertujuan meningkatkan inklusivitas pelaku usaha, termasuk penyusunan modul digital marketing untuk pelaku usaha tunarungu.

Dari kemitraan ini, dua capaian penting berhasil diraih. Pertama adalah lahirnya Deklarasi Palu yang ditandatangani oleh Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Palu sebagai bentuk komitmen resmi pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis SSE. Kedua, dibentuknya Kelompok Kerja Inklusif yang akan mengembangkan peta jalan SSE untuk Kota Palu secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Kehadiran Sikola Mombine dan Inbis Palu dalam forum tingkat ASEAN ini menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan praktik akar rumput dari Indonesia dalam penguatan solidaritas ekonomi sosial. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, mereka berharap model kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat sipil di Palu dapat menginspirasi negara-negara ASEAN lainnya dalam mendorong pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

[End]

Penulis: Satrio Amrullah | Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan