
Palu (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Yayasan Sikola Mombine berkolaborasi memperkuat ketangguhan sosial ekonomi masyarakat, khususnya kelompok rentan di daerah rawan bencana.
“Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program penghidupan yang inklusif dan peka risiko bagi penyandang disabilitas dan perempuan yang berada dalam kondisi kehidupan yang rentan atau program Pakagasi,” kata Project Manager Program Pakagasi Sikola Mombine Muhammad Taufik Hidayat di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis.
Ia mengatakan program tersebut dilaksanakan untuk memperkuat pembangunan sosial ekonomi masyarakat melalui pendampingan usaha dan peningkatan kapasitas kewirausahaan yang menyasar perempuan serta penyandang disabilitas.
Program Pakagasi dilaksanakan Yayasan Sikola Mombine bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) di 10 desa yang tersebar pada tiga kecamatan, yakni Desa Pakuli Utara, Simoro, dan Omu di Kecamatan Gumbasa.
Kemudian di Desa Bangga, Bulubete, dan Rogo di Kecamatan Dolo Selatan serta Desa Mpanau, Lolu, Pombewe, dan Jono Oge di Kecamatan Sigi Biromaru.
Ia menyebut sebanyak 1.050 perempuan dan penyandang disabilitas di 10 desa telah mendapatkan pendampingan dalam program tersebut.
“Sebanyak 1.050 orang perempuan dan penyandang disabilitas yang kami dampingi di 10 desa. Semuanya rata-ratanya adalah pelaku usaha,” katanya.
Pendampingan, kata dia, difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis dan kewirausahaan serta penguatan kepemimpinan perempuan dan penyandang disabilitas dalam kelompok usaha.
Ia mengatakan peserta menjalankan beragam jenis usaha, dengan sektor pertanian menjadi usaha yang paling banyak digeluti, yakni 273 orang, disusul usaha makanan 263 orang dan kue 171 orang.
Selain itu, sebanyak 92 orang menjalankan kios atau warung campuran, 75 orang usaha jasa, 51 orang usaha camilan, 34 orang usaha minuman, 23 orang usaha pakaian, 19 orang usaha isi ulang, dan tiga orang usaha peternakan. Sementara 46 orang tercatat belum memiliki usaha.
Selain pendampingan usaha, lanjut dia, Pakagasi juga mengembangkan koperasi inklusif untuk mendukung usaha perempuan dan penyandang disabilitas serta usaha kecil lainnya, terutama dalam akses keuangan, pengadaan, dan rantai pasokan.
Taufik mengatakan Pakagasi telah berjalan sejak 1 September 2023 dan akan berakhir pada 30 Desember 2026.
Karena itu, pihaknya telah menyusun rencana kerja tahun sebagai bagian dari upaya menyiapkan keberlanjutan program sekaligus menyinkronkan kegiatan Pakagasi dengan program Pemerintah Kabupaten Sigi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah agar manfaat program tetap berjalan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi Nuim Hayat mengatakan 10 desa yang menjadi lokasi program tersebut merupakan percontohan yang dapat menjadi rujukan bagi desa-desa lainnya.
“10 desa ini menjadi pilot project bagi desa-desa yang lain. Jadi ini bisa menjadikan praktik-praktik baik untuk desa-desa yang lain,” katanya.
Ia mengatakan hasil pendampingan di 10 desa tersebut perlu dievaluasi untuk melihat capaian program sekaligus menjadi bahan dalam menerapkan program-program yang telah dilakukan ke desa lainnya.
Menurut dia, evaluasi penting dilakukan agar praktik baik yang telah terbentuk melalui program tersebut dapat diidentifikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan desa lainnya.
Ia mengapresiasi dukungan Yayasan Sikola Mombine, ASB, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), serta berbagai pihak yang telah membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sigi.
Sumber: Antara Sulteng