
Palu – Sikola Mombine menyelenggarakan Kelas Aktivis sebagai ruang belajar dan refleksi bersama bagi staff dan umum untuk memahami keberagaman identitas manusia melalui perspektif hak asasi manusia. Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (30/7) di Ruang Meeting Sikola Mombine ini mengangkat tema “Mengenal Diri, Memahami Sesama: Refleksi tentang Tubuh, Keberagaman, dan Hak Asasi Manusia.”
Kegiatan ini menghadirkan Reza Agungerah, alumni Magister Kajian Gender Universitas Indonesia, sebagai pemateri. Dalam paparannya, Reza mengajak peserta memahami SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, and Sex Characteristics) sebagai konsep yang membantu menjelaskan keberagaman orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seksual dalam perspektif hak asasi manusia.
Selama sesi berlangsung, peserta diajak merefleksikan bagaimana setiap individu mengenal tubuh dan dirinya sendiri, memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman hidup dan identitas yang beragam, serta mendiskusikan isu-isu tersebut dalam kerangka kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Diskusi juga mengajak peserta mengkritisi berbagai perspektif yang berkembang di masyarakat mengenai gender dan seksualitas melalui pendekatan dialogis.
Reza menjelaskan berbagai konsep dasar dalam SOGIESC, mulai dari penetapan jenis kelamin saat lahir (assign sex at birth), orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, hingga karakteristik seksual. Menurutnya, pemahaman terhadap konsep-konsep tersebut penting untuk membedakan berbagai istilah yang kerap disalahartikan di ruang publik serta memahami bahwa identitas dan pengalaman setiap individu tidak selalu dapat diasumsikan hanya dari penampilan maupun karakteristik biologisnya.
Selain membahas konsep dasar, kelas ini juga mengulas berbagai bentuk diskriminasi yang masih dialami kelompok dengan keberagaman identitas, seperti stigma, stereotipe, kekerasan berbasis gender, outing, deadnaming, misgendering, hingga microaggression. Pembahasan tersebut dikaitkan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang menjamin setiap orang memperoleh perlindungan yang setara tanpa diskriminasi.
Dalam pemaparannya juga ditegaskan bahwa diskusi dilaksanakan dengan menggunakan kerangka hak asasi manusia sebagai landasan utama. Oleh karena itu, ruang belajar ini dirancang sebagai ruang yang aman, menghormati kerahasiaan peserta, serta tidak mentoleransi segala bentuk diskriminasi terhadap identitas seseorang.
Melalui Kelas Aktivis ini, Sikola Mombine berharap peserta dapat membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keberagaman manusia, memperkuat sikap saling menghormati, serta mendorong terciptanya ruang-ruang sosial yang lebih inklusif, aman, dan bebas dari diskriminasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Sikola Mombine untuk menghadirkan ruang-ruang pembelajaran kritis mengenai kesetaraan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial bagi masyarakat.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah