Tacloban, Filipina – Yayasan Sikola Mombine mengambil bagian dalam kegiatan Sharing and Learning Climate Smart Programming: Sharing on Innovations with Nature-Based Solutions (NbS) Workshop yang diselenggarakan oleh Arbeiter-Samariter-Bund South and South East Asia (ASB S-SEA) bersama ACCORD di Tacloban, Leyte, Filipina, pada pertengahan bulan Mei lalu.

Keikutsertaan Staff Sikola Mombine dalam forum regional ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas organisasi dalam mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan di wilayah dampingan.

Workshop tersebut menghadirkan Juan Miguel Torres dari Institute for Climate and Sustainable Cities sebagai fasilitator utama. Kegiatan diikuti oleh sembilan organisasi mitra ASB dari Indonesia dan Filipina, yakni JEMARI Sakato, Sikola Mombine, Paluma, CDP, A2D, PILCD, ACCORD, CDD, dan READ.

Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tantangan perubahan iklim yang saat ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan, ekonomi, pendidikan, hak asasi manusia, hingga pembangunan masyarakat secara luas.

Salah satu materi utama yang dibahas adalah lima fakta penting mengenai perubahan iklim. Pertama, perubahan iklim ditandai oleh peningkatan suhu bumi dan pemanasan global. Kedua, aktivitas manusia menjadi penyebab utama perubahan tersebut. Ketiga, terdapat konsensus ilmiah yang kuat bahwa perubahan iklim sedang berlangsung dan sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Keempat, dampaknya telah dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Kelima, masih tersedia berbagai peluang untuk mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Sikola Mombine bersama organisasi mitra lainnya mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat di wilayah program. Salah satu isu yang mengemuka adalah dampak perubahan iklim terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perubahan pola musim dan perilaku konsumsi masyarakat turut memengaruhi pendapatan pelaku usaha, sehingga diperlukan strategi adaptasi yang mampu menjaga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.

Melalui forum ini, Sikola Mombine juga memperdalam pemahaman mengenai konsep Nature-Based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam. Pendekatan ini menekankan pentingnya perlindungan, pengelolaan berkelanjutan, dan pemulihan ekosistem sebagai cara untuk menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.

Peserta diperkenalkan pada standar global NbS yang dikembangkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) guna memastikan bahwa setiap intervensi berbasis alam mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, keanekaragaman hayati, serta kesejahteraan masyarakat secara bersamaan.

Salah satu contoh penerapan NbS yang dibahas dalam workshop adalah restorasi mangrove. Selain berfungsi mengurangi abrasi pantai dan meningkatkan perlindungan terhadap gelombang badai maupun tsunami, restorasi mangrove juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis ekosistem pesisir.

Tidak hanya membahas konsep NbS secara umum, workshop juga memperkenalkan dua pendekatan penting yang berada di bawah payung solusi berbasis alam, yakni Ecosystem-based Adaptation (EbA) dan Ecosystem-based Disaster Risk Reduction (Eco-DRR). Kedua pendekatan tersebut memberikan pemahaman bahwa ekosistem tidak hanya berperan dalam menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dan risiko bencana.

“Salah satu pelajaran penting yang kami peroleh dari workshop ini adalah bahwa banyak kegiatan yang selama ini dilakukan di tingkat komunitas sebenarnya telah memiliki unsur solusi berbasis alam. Tantangannya adalah bagaimana memperkuat pendekatan tersebut agar tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mendukung penghidupan masyarakat dan meningkatkan kapasitas adaptasi mereka terhadap perubahan iklim,” ungkap Fadli, staff Sikola Mombine yang mengikuti kegiatan ini.

Bagi Sikola Mombine, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi untuk memperkuat program-program yang telah berjalan. Pendekatan solusi berbasis alam dinilai dapat menjadi strategi yang relevan dalam mendukung upaya pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan ekonomi, serta pengurangan risiko bencana yang semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim.

[End]

Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan