
Palu – Perempuan penyandang disabilitas pelaku usaha di Kota Palu memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan usahanya, namun masih menghadapi kesenjangan keterampilan yang cukup besar. Hal ini terungkap dalam hasil Training Need Assessment yang melibatkan 25 perempuan penyandang disabilitas pelaku usaha di kota yang dilaksanakan oleh Yayasan Sikola Mombine.
Dalam laporan Asessment tersebut terungkap bahwa kebutuhan pelatihan dan peningkatan kapasitas usaha menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Sikola Mombine menemukan 76 persen responden membutuhkan peningkatan keterampilan manajemen usaha. Selain itu, 68 persen membutuhkan pelatihan pengelolaan keuangan, 64 persen membutuhkan peningkatan kemampuan pemasaran, dan 52 persen memerlukan pelatihan pemanfaatan teknologi digital.
Temuan asesment ini menunjukkan bahwa kendala utama dalam pengembangan usaha bukan terletak pada kurangnya kemauan untuk berusaha, melainkan pada keterbatasan akses terhadap pelatihan yang sistematis dan inklusif.
Sebagian responden memang pernah mengikuti pelatihan sebelumnya, namun cakupannya masih terbatas dan belum terintegrasi. Pelatihan pemasaran merupakan yang paling banyak diikuti, namun pelatihan penting lain seperti digital marketing dan pelayanan pelanggan masih sangat minim.
Di sisi lain, sebagian besar usaha yang dijalankan juga belum memiliki legalitas formal. Hanya sekitar 24 persen responden yang telah memiliki legalitas usaha, sementara 76 persen lainnya masih bersifat informal. Kondisi ini membatasi akses terhadap pembiayaan, program bantuan pemerintah, serta peluang pasar yang lebih luas.
Selain kesenjangan keterampilan, berbagai hambatan inklusi juga memengaruhi akses pelatihan bagi perempuan penyandang disabilitas. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan mobilitas, kesulitan transportasi, kebutuhan pendamping, hingga ketiadaan juru bahasa isyarat dalam kegiatan pelatihan.
Meski demikian, semangat belajar para responden tetap tinggi. Sebanyak 80 persen responden memilih metode pelatihan tatap muka, dan 72 persen menginginkan pendekatan berbasis praktik langsung agar materi dapat langsung diterapkan dalam usaha sehari-hari.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya program pelatihan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga dirancang secara inklusif dengan mempertimbangkan kebutuhan aksesibilitas peserta.
Yayasan Sikola Mombine secara aktif terus mendorong agar program peningkatan kapasitas bagi perempuan penyandang disabilitas tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi juga disertai pendampingan usaha berkelanjutan agar dampak ekonomi yang dihasilkan dapat lebih nyata dan berkelanjutan.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah