Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) sebagai momentum untuk menegaskan kembali perjuangan perempuan dalam memperoleh keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas peran mereka dalam pembangunan. Di Sulawesi Tengah, peringatan ini menjadi refleksi penting atas realitas yang masih dihadapi banyak perempuan—terutama perempuan penyandang disabilitas—yang sering berada di persimpangan berbagai bentuk kerentanan sosial dan ekonomi.

Bagi Yayasan Sikola Mombine, keberpihakan pada perempuan bukan sekadar slogan tahunan, tetapi menjadi fondasi kerja organisasi sejak awal berdirinya. Lembaga ini lahir dari refleksi panjang atas rendahnya partisipasi perempuan dalam berbagai proses pembangunan dan pengambilan keputusan. Sejak berkembang dari laboratorium pendidikan kepemimpinan perempuan pada 2009 hingga menjadi yayasan mandiri pada 2015, Sikola Mombine terus berupaya menjadi ruang belajar, pengorganisasian, sekaligus inovasi bagi perempuan untuk memperjuangkan hak dan masa depan mereka.

Perempuan Disabilitas: Di Antara Kerentanan dan Ketangguhan

Di Kota Palu, banyak perempuan penyandang disabilitas menjalankan usaha kecil untuk menopang kehidupan keluarga mereka. Berdasarkan hasil training need assessment yang dilakukan terhadap 25 perempuan penyandang disabilitas pelaku usaha, sebagian besar dari mereka menjalankan usaha mikro berbasis rumah tangga seperti kuliner, jasa sederhana, perdagangan kecil, hingga kerajinan.

Usaha-usaha tersebut tidak lahir dari dukungan sistem ekonomi yang kuat, melainkan dari inisiatif pribadi dan pengalaman belajar secara otodidak. Banyak di antara mereka telah menjalankan usaha selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari tiga tahun. Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, meskipun usaha yang dijalankan masih berada pada skala mikro dengan pendapatan yang relatif terbatas.

Sebagian besar dari mereka memperoleh pendapatan di bawah dua juta rupiah per bulan, sementara tanggungan keluarga yang harus dipenuhi tidak sedikit. Banyak pelaku usaha disabilitas memiliki tiga hingga empat anggota keluarga dalam rumah tangga mereka. Dalam kondisi tersebut, usaha kecil yang mereka jalankan bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi menjadi fondasi keberlangsungan hidup keluarga.

Di sisi lain, kondisi disabilitas juga menghadirkan tantangan tersendiri. Beberapa perempuan menghadapi keterbatasan mobilitas, kesulitan penglihatan, atau hambatan komunikasi. Situasi ini tidak hanya memengaruhi aktivitas usaha sehari-hari, tetapi juga membatasi akses mereka terhadap pelatihan, pasar, dan peluang ekonomi yang lebih luas.

Namun, di balik berbagai keterbatasan tersebut, satu hal yang menonjol adalah motivasi yang sangat tinggi untuk berkembang. Para perempuan ini ingin belajar, meningkatkan kapasitas usaha, dan memperluas peluang ekonomi bagi diri mereka dan keluarga.

Kesenjangan Keterampilan dan Akses Pelatihan

Tantangan utama yang dihadapi perempuan penyandang disabilitas pelaku usaha bukanlah kurangnya kemauan untuk bekerja, melainkan terbatasnya akses terhadap peningkatan kapasitas usaha.

Sebagian besar penyandang disabilitas membutuhkan penguatan dalam beberapa bidang penting seperti manajemen usaha, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital. Keterampilan-keterampilan ini menjadi fondasi penting untuk mengembangkan usaha secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Sayangnya, pelatihan yang selama ini mereka akses masih bersifat terbatas dan tidak merata. Banyak pelatihan yang pernah diikuti hanya berfokus pada satu aspek tertentu dan belum membangun kapasitas usaha secara komprehensif.

Hambatan lain juga tidak kalah besar. Keterbatasan mobilitas, akses transportasi, kebutuhan pendamping, hingga ketiadaan juru bahasa isyarat dalam pelatihan sering kali menjadi penghalang bagi perempuan disabilitas untuk berpartisipasi secara optimal.

Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan kewirausahaan tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga harus dirancang secara inklusif dan aksesibel agar dapat benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.

Kerja-kerja Sikola Mombine untuk Ekonomi Inklusif

Selama beberapa tahun terakhir, Sikola Mombine secara konsisten mendorong pembangunan yang lebih inklusif di Sulawesi Tengah. Berbagai program dijalankan untuk memperkuat partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Salah satunya melalui pengembangan penghidupan inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas, yang dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi internasional, serta berbagai mitra pembangunan. Melalui program Penghidupan yang Inklusif dan Peka Risiko bagi Penyandang Disabilitas dan Perempuan dalam Kondisi Rentan (PAKAGASI), Sikola Mombine bersama mitra memperkuat partisipasi kelompok rentan dalam pembangunan daerah. Program-program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga mendorong perubahan kebijakan dan ekosistem ekonomi yang lebih adil.

Selain itu, Sikola Mombine juga aktif mendorong pengembangan ekosistem kewirausahaan inklusif melalui riset, advokasi, serta kolaborasi dengan berbagai lembaga kemanusiaan internasional. Upaya ini termasuk mendorong program inkubasi bagi pelaku usaha perempuan dan penyandang disabilitas agar mereka dapat meningkatkan skala dan keberlanjutan usaha.

IWD 2026: Menguatkan Keadilan Inklusif

Hari ini, 8 Maret 2026, diperingati sebagai hari International Women’s Day (IWD), kita dapat melihat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender masih panjang, terutama bagi perempuan yang menghadapi kerentanan berlapis seperti kemiskinan, disabilitas, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya.

Bagi Sikola Mombine, memperkuat kemandirian ekonomi perempuan penyandang disabilitas bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan, tetapi juga tentang membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi mereka dalam pembangunan.

Ketika perempuan disabilitas memiliki akses terhadap pelatihan, pasar, dan dukungan yang inklusif, mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, tetapi juga agen perubahan di komunitasnya.

Menyambut IWD 2026, kerja-kerja bersama ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang adil hanya dapat terwujud ketika tidak ada perempuan yang tertinggal—termasuk mereka yang selama ini berada di pinggiran.

Dan dari Palu, melalui langkah-langkah kecil para perempuan pelaku usaha disabilitas, harapan tentang ekonomi yang lebih inklusif terus tumbuh dan bergerak.

[End]

Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan