Palu – Perempuan penyandang disabilitas di Kota Palu menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menopang ekonomi keluarga, melalui usaha mikro yang mereka jalankan secara mandiri. Hal ini terungkap dalam hasil Training Need Assessment yang melibatkan 25 perempuan penyandang disabilitas pelaku usaha di kota yang dilaksanakan oleh Yayasan Sikola Mombine.

Sebagian besar dari mereka menjalankan usaha berbasis rumah tangga seperti kuliner, jasa, perdagangan kecil, dan kerajinan. Sektor kuliner menjadi yang paling dominan dengan porsi sekitar 40 persen, diikuti jasa 36 persen, perdagangan 16 persen, dan kerajinan 8 persen.

Menariknya, mayoritas usaha tersebut telah bertahan cukup lama. Sekitar 64 persen responden telah menjalankan usahanya lebih dari tiga tahun. Hal ini menunjukkan ketekunan dan kemampuan bertahan para perempuan penyandang disabilitas dalam menghadapi berbagai keterbatasan.

Namun demikian, usaha yang dijalankan sebagian besar masih berada pada skala mikro dengan pendapatan yang relatif rendah. Sebanyak 40 persen responden memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan, sementara 36 persen berada pada rentang Rp1–2 juta per bulan.

Kondisi ini menjadi semakin menantang karena sebagian besar responden memiliki tanggungan keluarga yang cukup besar. Sebanyak 44 persen memiliki tiga hingga empat anggota keluarga, sementara 40 persen lainnya memiliki lebih dari empat anggota keluarga.

Selain menghadapi keterbatasan ekonomi, para perempuan ini juga menghadapi tantangan terkait disabilitas yang mereka alami. Kesulitan fungsional paling banyak ditemukan pada aspek penglihatan, mobilitas, dan pendengaran, yang secara langsung memengaruhi aktivitas usaha sehari-hari.

Meski demikian, semangat untuk mandiri secara ekonomi tetap tinggi. Usaha yang mereka jalankan tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi strategi bertahan hidup serta bentuk kemandirian di tengah berbagai keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi.

Hasil assesmen Sikola Mombine ini menunjukkan bahwa perempuan penyandang disabilitas memiliki potensi ekonomi yang besar jika didukung dengan akses pelatihan, pendampingan, dan ekosistem usaha yang lebih inklusif.

Yayasan Sikola Mombine menilai bahwa dukungan terhadap kelompok ini tidak hanya penting untuk meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan mendorong pembangunan yang lebih inklusif di tingkat lokal.

[End]

Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan