• Post author:
  • Post category:Blog
  • Post comments:0 Comments

Tangkura, Poso — 7 November 2025. Upaya pemberdayaan perempuan dalam tata kelola hutan berbasis masyarakat mendapat penguatan baru melalui kegiatan Eksplorasi Lapangan Perempuan dalam Perhutanan Sosial yang digelar Yayasan Sikola Mombine dengan dukungan KPH Sintuwu Maroso dan Yayasan Panorama Alam. Kegiatan berlangsung pada 5–7 November 2025 di Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso.

Sebanyak 15 peserta mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, terdiri atas 12 perempuan dan 3 laki-laki dari unsur Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Kelompok Usaha Perhutanan Sosial, tokoh adat perempuan, hingga pemerintah desa. Selain sesi eksplorasi lapangan, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyerahan Surat Keputusan izin Perhutanan Sosial kepada Kepala Desa Tangkura. SK tersebut diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan dan diserahkan melalui KPH Sintuwu Maroso.

Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam pengelolaan perhutanan sosial yang inklusif, responsif gender, serta adaptif terhadap risiko bencana. Melalui observasi lapangan, peserta mempelajari karakteristik wilayah, potensi sumber daya hutan, serta tantangan yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan.

Sebagai bagian dari asesmen, tim pelaksana melakukan pendataan kelompok berisiko bencana di Desa Tangkura. Pendataan tersebut mencatat total 264 jiwa yang masuk kategori berisiko, terdiri dari 150 perempuan dan 114 laki-laki. Data tersebut disusun dalam Lampiran Kelompok Risiko Bencana sebagai bahan identifikasi tingkat kerentanan, sebaran pemukiman, dan ancaman lingkungan yang dihadapi warga.

Tim juga menyusun peta rencana jalur evakuasi desa, mencakup titik kumpul, arah evakuasi utama, serta rute alternatif yang dapat digunakan saat terjadi bencana. Peta ini nantinya menjadi dasar penyusunan rencana kontinjensi desa serta memperkuat kapasitas kelompok perempuan dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Melalui rangkaian kegiatan ini, perempuan Desa Tangkura diharapkan semakin berperan dalam pengelolaan perhutanan sosial sekaligus mendorong kesiapsiagaan komunitas menghadapi ancaman bencana. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju penguatan tata kelola hutan desa yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.

[End]

Penulis: Nurul Rahma | Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan