
Yayasan Sikola Mombine mengikuti rangkaian kegiatan Social Enterprise World Forum (SEWF) 2025 yang berlangsung pada 29–31 Oktober 2025 di Taipei, Taiwan. Forum internasional ini mempertemukan pelaku usaha sosial, lembaga pembangunan, akademisi, pemerintah, dan komunitas dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan membahas perkembangan inovasi sosial. Tahun ini, SEWF mengangkat tema “Building an Inclusive Future through Social Innovation”.
Keikutsertaan Sikola Mombine didukung oleh Sasakawa Peace Foundation, sejalan dengan kerja-kerja pemberdayaan sosial yang mereka lakukan di Sulawesi Tengah, terutama melalui program EMPOWER-IN dan PAKAGASI yang menyasar perempuan dan penyandang disabilitas di Palu dan Sigi. Dua staf yang hadir mewakili organisasi adalah Wulan Trisya Lembonunu, Direktur Pendidikan dan Pengorganisasian, serta Muh Taufik Hidayat, Manager Pemberdayaan.
Selama dua hari pertama, perwakilan Sikola Mombine mengikuti berbagai sesi diskusi panel yang membahas peran usaha sosial dalam menghadapi isu lingkungan, penciptaan lapangan kerja, hingga model pendanaan yang berorientasi pada nilai. Dalam salah satu sesi bertema “Social Enterprise Solutions for the Planet”, Sikola Mombine turut menjadi pembicara dan menyampaikan praktik pemberdayaan berbasis komunitas yang selama ini mereka jalankan di daerah.
Selain diskusi panel, keduanya juga mengunjungi area pameran usaha sosial dari berbagai negara. Beragam produk dan pendekatan dipamerkan, mulai dari digitalisasi pemasaran berbasis AI hingga model pemberdayaan bagi perempuan dan penyandang disabilitas. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat berbagai contoh praktik yang bisa dipelajari dan disesuaikan dengan konteks lokal di Sulawesi Tengah.
Pada hari ketiga, rombongan peserta SEWF mengunjungi Kota Yilan. Di sana, perwakilan Sikola Mombine bertemu sejumlah komunitas lokal yang mengembangkan usaha berbasis budaya dan pasar tradisional. Pertemuan ini memberi gambaran bagaimana usaha kecil dapat berkembang sambil tetap menjaga nilai-nilai lokal.

Menurut Taufik Hidayat, mengikuti SEWF memberikan pemahaman lebih luas mengenai bagaimana usaha sosial memprioritaskan dampak sosial dan lingkungan.
“Saya belajar bahwa bisnis sosial bukan hanya soal keuntungan. Banyak model yang menempatkan nilai dan keberlanjutan sebagai inti dari usaha mereka,” katanya. Ia juga melihat potensi kolaborasi baru dengan beberapa organisasi internasional yang ditemui selama forum.
Sementara itu, Wulan Trisya Lembonunu menilai forum ini sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman mengenai pengorganisasian perempuan dan kelompok rentan yang selama ini dilakukan Sikola Mombine.
“Banyak peserta dari negara lain yang juga bekerja dengan komunitas tingkat akar rumput. Bertemu mereka membantu memperluas perspektif dan membuka peluang kerja sama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembelajaran dari forum ini akan memperkaya pendekatan program yang sedang mereka jalankan.
Keterlibatan Sikola Mombine dalam SEWF 2025 menjadi ruang untuk memperluas jejaring, sekaligus memperdalam pemahaman mengenai berbagai model usaha sosial dari negara lain. Pengalaman ini diharapkan dapat memperkuat program yang mereka jalankan di Sulawesi Tengah, terutama dalam mendorong praktik kewirausahaan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah | Editor: Satrio Amrullah