
PALU — Yayasan Sikola Mombine bersama Sasakawa Peace Foundation (SPF) menggelar Workshop Pengembangan Penulisan Buku tentang Sosial Solidaritas Ekonomi (SSE) di Kota Palu, Senin (28/9/2026). Kegiatan berlangsung di Tanaris Coffee dan menjadi bagian dari proses penyusunan buku yang akan mengangkat pengalaman serta praktik pengembangan SSE di Kota Palu.
Workshop mempertemukan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dalam pengembangan ekonomi sosial dan solidaritas, di antaranya akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, organisasi penyandang disabilitas, serta perwakilan Sikola Mombine dan SPF.
Dalam pembahasan, peserta memberikan masukan agar buku tidak hanya mengulas praktik ekonomi inklusif, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan mitigasi bencana, khususnya bagi kelompok rentan. Kelompok rentan dinilai memiliki tantangan yang tidak berhenti pada akses terhadap pekerjaan dan kegiatan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan dan keberlangsungan aktivitas ketika terjadi bencana.
Pembahasan tersebut menjadi relevan dengan kondisi Kota Palu yang memiliki pengalaman bencana besar pada 2018. Bencana tidak hanya berdampak pada kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas usaha dan pekerjaan. Karena itu, aspek kesiapsiagaan dan mitigasi dinilai penting untuk dipertimbangkan dalam pembahasan mengenai ekonomi inklusif.
Dalam kesempatan tersebut, Sasakawa Peace Foundation turut berbagi pengalaman dari Jepang mengenai pendekatan mitigasi bencana yang mempertimbangkan kebutuhan kelompok yang berbeda. Pendekatan tersebut antara lain diterapkan bagi penyandang disabilitas, lanjut usia, serta pekerja migran yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan bahasa Jepang.
Salah satu pembelajaran yang dibagikan adalah penggunaan bahasa yang lebih sederhana dalam menyampaikan informasi dan pesan kebencanaan. Cara tersebut dilakukan agar informasi dapat lebih mudah dipahami oleh kelompok dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Pembahasan ini memperlihatkan bahwa penyampaian informasi kebencanaan tidak cukup hanya dengan memastikan informasi tersedia. Informasi juga perlu disampaikan dengan cara yang dapat dipahami dan diakses oleh masyarakat dengan kondisi dan kebutuhan yang beragam.
Sebanyak 41 peserta terlibat dalam workshop. Peserta berasal dari SPF dan Sikola Mombine, akademisi, Pemerintah Kota Palu, inkubator bisnis, komunitas, serta organisasi penyandang disabilitas, di antaranya PPDI, HWDI, GERKATIN, PERTUNI, dan Solidaritas Difabel Berkarya.
Selain mendiskusikan isu kebencanaan, peserta juga membahas rancangan dan materi yang akan dikembangkan dalam buku SSE. Berbagai pengalaman dari perempuan, penyandang disabilitas, pelaku usaha, komunitas, dan kelompok lainnya menjadi bagian dari masukan dalam proses penyusunan.
Melalui workshop ini, pengembangan buku SSE diharapkan dapat merekam pengalaman dan pembelajaran mengenai praktik ekonomi sosial dan solidaritas di Kota Palu secara lebih luas. Perspektif mitigasi bencana menjadi salah satu bagian yang akan dipertimbangkan untuk melihat bagaimana kelompok rentan tidak hanya memperoleh peluang dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat menghadapi risiko yang muncul dalam lingkungan usaha dan kehidupan mereka.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah