
Palu, 4 Agustus 2026 – Yayasan Sikola Mombine bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) Indonesia menyelenggarakan Workshop Penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Exit Strategy Program PAKAGASI (Penghidupan yang Inklusif dan Peka Risiko bagi Penyandang Disabilitas dan Perempuan dalam Kondisi Kehidupan yang Rentan) di Hotel Best Western Coco Palu, Selasa (4/8). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyusun arah program tahun terakhir sekaligus memastikan keberlanjutan manfaat program setelah periode implementasi berakhir.
Workshop dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Sigi, unsur Forkopimda Provinsi Sulawesi Tengah, perwakilan kelompok perempuan dan penyandang disabilitas, serta para mitra pelaksana program. Kegiatan juga diikuti secara daring oleh perwakilan ASB, Fasilitasi Kerja Sama (Fasker) Kementerian Dalam Negeri, dan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa.
Selama pelaksanaan workshop, para peserta membahas penyusunan Rencana Kerja Tahunan yang diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Sigi. Sinkronisasi tersebut dilakukan agar program yang dijalankan berbagai pihak saling melengkapi, memperkuat dampak, serta menghindari tumpang tindih pelaksanaan di lapangan.
Manager Project Program PAKAGASI Yayasan Sikola Mombine, Moh. Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara program PAKAGASI dengan pemerintah daerah, sekaligus menyusun strategi keberlanjutan program setelah masa pendampingan berakhir.
“Tujuan kegiatan ini adalah menyinkronkan program PAKAGASI dengan program Pemerintah Kabupaten Sigi agar berjalan searah dan saling mendukung. Kami juga memastikan bahwa seluruh proses ini menjadi bagian dari akuntabilitas kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat melalui kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa,” ujarnya.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, Program PAKAGASI memfokuskan intervensinya pada penguatan penghidupan masyarakat yang inklusif melalui edukasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan, serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.
Salah satu inisiatif yang tengah dikembangkan adalah pembentukan koperasi inklusi sebagai wadah penguatan ekonomi bersama bagi perempuan dan penyandang disabilitas. Melalui koperasi tersebut, kelompok-kelompok rentan didorong untuk membangun usaha secara gotong royong, memperluas akses ekonomi, serta meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan penghidupan mereka.
Selain aspek ekonomi, Program PAKAGASI juga terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi krisis iklim dan risiko bencana melalui berbagai kegiatan edukasi, pendampingan, serta penguatan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun masyarakat yang lebih tangguh sekaligus memastikan kelompok rentan memperoleh ruang yang setara dalam proses pembangunan desa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Sikola Mombine dan ASB atas komitmen mereka mendampingi masyarakat Kabupaten Sigi selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat.
“Program ini memberikan dampak yang baik bagi masyarakat Sigi, karena kami yakin tidak semua kerja-kerja di masyarakat bisa dijangkau oleh pemerintah. Terima kasih kepada Sikola Mombine dan ASB atas kontribusi yang telah diberikan,” ujar Nuim Hayat.
Ia menambahkan bahwa sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar berbagai program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya perempuan dalam kondisi rentan dan penyandang disabilitas.
Nuim juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini Program PAKAGASI telah melakukan pendampingan di 10 desa di Kabupaten Sigi. Pemerintah Kabupaten Sigi berharap praktik-praktik baik yang telah berkembang di desa-desa tersebut dapat menjadi contoh (pilot project) bagi desa lainnya dalam membangun pembangunan desa yang lebih inklusif dan tangguh.
Workshop ini sekaligus menjadi bagian dari penyusunan Exit Strategy Program PAKAGASI, yaitu strategi untuk memastikan berbagai capaian, kapasitas, dan kelembagaan yang telah dibangun selama masa program dapat terus berjalan secara mandiri setelah dukungan program berakhir. Melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, desa, kelompok masyarakat, dan berbagai mitra pembangunan, keberlanjutan manfaat program diharapkan dapat terus dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Sigi.
Program PAKAGASI sendiri telah dilaksanakan sejak tahun 2024 dan memasuki tahun ketiga implementasinya pada 2026. Selama periode tersebut, Yayasan Sikola Mombine secara konsisten melaksanakan rapat kerja tahunan sebagai bagian dari proses evaluasi, pembelajaran, dan penyusunan arah program agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung agenda pembangunan daerah yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
[End]
Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah