• Post author:
  • Post category:Blog
  • Post comments:0 Comments

PALU — Yayasan Sikola Mombine melalui divisi pengorganisasian dan pemberdayaan menggelar edukasi internal mengenai kebencanaan untuk meningkatkan pemahaman staf tentang risiko bencana di Sulawesi Tengah dan dampaknya terhadap kehidupan perempuan serta kelompok rentan. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Yayasan Sikola Mombine, Senin (24/8/2026).

Materi disampaikan oleh Satrio Amrullah, staf internal Yayasan Sikola Mombine sekaligus alumni Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam pemaparannya, Satrio menjelaskan karakteristik ancaman bencana di Indonesia dan Sulawesi Tengah, termasuk gempa bumi, tsunami, likuefaksi, banjir dan longsor.

Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan risiko multibahaya tinggi. Materi yang disampaikan menunjukkan seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tengah berada dalam kelas risiko multibahaya tinggi, dengan sejumlah ancaman seperti gempa bumi, tsunami, likuefaksi, tanah longsor dan banjir.

Satrio juga menjelaskan bahwa risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh bahaya, tetapi merupakan hasil interaksi antara bahaya, kerentanan dan kapasitas. Karena itu, pengurangan risiko perlu dilakukan dengan mengurangi kerentanan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat.

Bencana dapat berdampak pada semua orang, tetapi tidak semua orang menerima dampak yang setara. Karena itu, kita perlu melihat siapa yang paling rentan dan apa kebutuhan mereka dalam setiap tahapan penanggulangan bencana,” kata Satrio.

Pembahasan juga menyoroti pengalaman kebencanaan Sulawesi Tengah, khususnya rangkaian gempa dan tsunami di Teluk Palu. Materi mencatat tsunami pada 1927, 1938 dan 2018, sementara gempa Palu-Donggala 2018 juga memicu likuefaksi di Petobo, Balaroa dan Jono Oge.

Dalam konteks perempuan, Satrio menjelaskan bahwa situasi darurat dapat meningkatkan kerentanan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, kebersihan diri, keamanan dan privasi. Perempuan juga masih menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap pengambilan keputusan dalam penanggulangan bencana.

Perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan ketika bencana terjadi. Mereka perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan, karena kebutuhan dan pengalaman perempuan harus menjadi bagian dari perencanaan penanggulangan bencana,” ujarnya.

Selain perempuan, edukasi tersebut membahas kebutuhan kelompok rentan lainnya, seperti anak, penyandang disabilitas dan lansia. Kegiatan ini diharapkan memperkuat kapasitas staf Sikola Mombine dalam memahami risiko bencana sekaligus memastikan perspektif gender dan inklusi menjadi bagian dalam pelaksanaan program organisasi.

[End]

Penulis: Satrio Amrullah| Editor: Satrio Amrullah

Tinggalkan Balasan